"Pun tak akan kusiram terlalu berlebihan agar tidak busuk"
Seperti selimut hitam tebal yang dihamparkan, malam dengan sigap mengambil alih peran...
Ah malam ini kubiarkan jari jari ini berkencan dengan senar senar gitar. Setidaknya kemesraan mereka menghasilkan harmoni indah menurut pendengaranku sendiri. Aku memang sedikit tidak ramah, hanya menatap datar malam, kosong. Yah terkadang kekosongan menjadi hal yang baik bagiku, aku lebih nyaman mengisi sebuah kekosongan dengan sesuatu dibanding harus merpikan ke"ada"an atau menambahkan sesuatu yang pas pada sesuatu yang telah ada. Ah sudahlah, sepertinya jari jariku semakin mesra dengan senar senar gitar.
Aku memang benar benar sedang tidak berniat melakukan apa pun,...
Aku tidak membalas senyum bulan malam ini, aku tidak membalas sapa bintang malam ini, aku bahkan hanya menatap datar malam...
Aku adalah petani, yang membiarkan ladangnya ditumbuhi ilalang dan rerumputan. Sejak waktu itu, terakhir kali aku menyebarkan bibit bibit bunga indah di ladang ini, merawatnya dari hari ke hari, tapi tak pernah mendapatinya mekar. Aku bukan petani yang tidak pernah lelah, terkadang aku selalu benar benar berharap bunga itu mekar dengan indahnya, menghias indah ladang ini.
Terkadang saat aku berharap hujan turun membantu menyiram tiap bibit yang kutanam, justru terik mentari yang kudapat. Saat aku sudah meluangkan banyak waktu menyiraminya dalam tulus, hujan datang berkunjung, ah bukan, justru badai yang lebih bersemangat datang. Sungguh, aku tidak pernah menyalahkan siapa pun, tidak pernah menyalahkan apa pun, kecuali diriku sendiri. Bukan karena menyalahkan tidak akan mengubah apa pun, tapi lebih karena sebuah ketulusan lebih baik daripada menyalahkan.
Sungguh, aku akhirnya sudah merasa sangat lelah. Aku tidak lagi berminat bahkan hanya untuk sekedar menjenguk ladangku. Mungkin bibit bibit yang tak kunjung tumbuh itu, telah benar benar hilang, dalam, dalam, terpendam terlampau dalam. Yah ilalang dan rumput mengambil alih tiap jengkal ladangku. Dan sungguh, aku akhirnya tersadar bahwa mungkin memang bunga bunga itu tidak pernah cocok untuk tumbuh di ladang ini. Aku tahu, sekarang aku hanya harus merapikan kembali ladang ini, membersihkannya.
Dan saat ladang ini sudah benar benar bersih, saat ladang ini sudah benar benar kosong, saat ladang ini sudah benar benar pantas, aku tahu suatu saat pasti akan kutemukan bibit bunga yang pas, yang akan benar benar tumbuh mekar nan indah disini, di ladang ini. Saat tiba waktunya aku menanam bibit baru kelak, tak akan kubiarkan lagi terik mentari membuatnya terlampau haus, pun tak akan kusiram terlalu berlebihan agar tidak busuk. Agar saat tiba wktunya kelak, bunga itu akan benar benar bermekaran indah menghias ladangku.
Sudahlah, malam ini aku benar benar malas melakukan banyak hal tapi aku tidak akan pernah malas atau lelah untuk merapikan ladang ini, tidak akan pernah,..







0 Response to "Ladang"
Post a Comment